Zonanugera's.com

Beranda » Zona Agrobisnis » Perikanan

Category Archives: Perikanan

Kandungan Gizi Nutrisi Bandeng


Bandeng (Chanos chanos Forsskål) adalah ikan pangan populer di Asia Tenggara. Ikan ini merupakan satu-satunya spesies yang masih ada dalam familia Chanidae (bersama enam genus tambahan dilaporkan pernah ada namun sudah punah). Dalam bahasa Bugis dan Makassar dikenal sebagai ikan bolu, dan dalam bahasa Inggris milkfish)

Mereka hidup di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dan cenderung berkawanan di sekitar pesisir dan pulau-pulau dengan terumbu koral. Ikan yang muda dan baru menetas hidup di laut selama 2–3 minggu, lalu berpindah ke rawa-rawa bakau berair payau, dan kadangkala danau-danau berair asin. Bandeng baru kembali ke laut kalau sudah dewasa dan bisa berkembang biak. (lebih…)

Iklan

Daya Saing Produk Ikan Terancam


Pemberlakuan Pajak Pertambahan Nilai atau PPN untuk pakan ikan menimbulkan ancaman terhadap daya saing produk perikanan budidaya.

Kebutuhan komponen pakan mencapai 60 persen dari biaya produksi ikan sehingga pengenaan PPN pakan akan mendongkrak harga jual ikan segar.

Demikian dikemukakan Dekan Fakultas Ekologi Manusia Institut Pertanian Bogor (IPB) Arif Satria, akhir pekan lalu. Dia diminta tanggapannya berkaitan dengan pemberlakuan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang Perubahan Ketiga atas UU No 8/1983 tentang PPN Barang dan Jasa serta Pajak Penjualan atas Barang Mewah mulai 1 April, yang memasukkan pakan ikan sebagai produk kena pajak.

Saat ini produsen pakan ikan dikuasai oleh segelintir perusahaan besar. Keterbatasan pabrik pakan menyebabkan harga pakan ikan domestik cenderung tinggi. Harga produk pakan ikan Indonesia lebih mahal Rp 300-Rp 500 per kilogram dibandingkan dengan Vietnam.

”Harga pakan yang semakin mahal pada akhirnya memberatkan pembudidaya ikan. Dibutuhkan upaya serius pemerintah untuk membangkitkan sentra produksi pakan ikan di tingkat masyarakat,” ujarnya.

Investasi pabrik pakan

Arif menambahkan, pemerintah harus segera mendorong investasi pabrik pakan ikan agar produsen semakin banyak dan harga pakan ikan bisa ditekan.

Investasi pakan perlu diarahkan ke skala usaha kecil dan menengah pada sentra-sentra produksi perikanan budidaya.

Hal senada dikemukakan Kepala Riset Pusat Kajian Sumber Daya Kelautan dan Peradaban Maritim Suhana.

Penurunan biaya produksi perikanan di tingkat masyarakat perlu diwujudkan dengan pembentukan rumah-rumah pakan ikan yang dikelola oleh kelompok pembudidaya ikan dengan memanfaatkan bahan baku lokal.

”Pembentukan rumah pakan dengan bahan baku lokal mendorong pembudidaya untuk tidak lagi bergantung pada pakan pabrik yang harganya mahal dan jauh dari jangkauan mereka,” ujar Suhana.

Kebutuhan bahan baku

Sementara itu, Ketua Divisi Pakan Ikan dan Udang Akuakultur Asosiasi Produsen Pakan Indonesia Denny D Indradjaja, beberapa waktu lalu, menyebutkan bahwa mahalnya harga pakan ikan dan udang nasional dipicu oleh kebutuhan bahan baku impor yang tinggi.

Impor tepung ikan untuk bahan baku pakan 50.000-60.000 ton per tahun atau sekitar 50 persen dari kebutuhan.

Adapun bungkil kedelai semuanya diimpor. Produsen pakan ikan terbesar di dunia saat ini adalah China, sedangkan di tingkat ASEAN didominasi oleh Thailand.

Sumber : Kompas (2010)

Abon Bergizi dari Duri Ikan Bandeng


Tak sedikit dari kita pasti membuang duri ikan bandeng saat makan. Tapi seorang pengusaha asal Yogyakarta, punya ide kreatif. Umi Hayati mencoba membuat abon dari duri-duri bandeng. Hasilnya banyak pembeli yang suka dan dagangan pun laris manis terjual. Karena abon buatan Umi mengandung kalsium tinggi.
Dagangan Umi Hayati berlokasi di Jalan Herman Yohanes, Yogyakarta. Ia mendapat ide membuat abon itu, setelah mendengar informasi dari seorang dokter. Kandungan kalsium ini berguna untuk para manula.

Dalam proses pembuatannya, duri-duri ikan dan beberapa ikan bandeng utuh dikukus bersama. Lamanya sekitar beberapa menit agar duri-duri menjadi lunak.

Selesai dikukus, duri-duri digoreng hingga kering agar mudah hancur. Lalu dilebur dengan blender. Setelah ditambah bumbu penyedap, hasil blender digoreng kembali. Minyak dari penggorengan ditiriskan maka jadilah abon duri bandeng dengan aroma khas.

Kini abon duri bandeng buatan Umi sudah cukup dikenal. Pesanan telah datang dari banyak kota mulai dari Pati hingga Solo, Jawa Tengah. Harga jualnya Rp 9 ribu setiap seratus gram.

Sumber : Liputan 6 (2010)

Produksi Perikanan Terus Menurun


Kementerian Kelautan dan Perikanan menggalakkan kembali program menebar benih ikan guna mengatasi penurunan produksi perikanan tangkap di laut sejak tahun 2007. Peningkatan populasi ikan diharapkan membantu terwujudnya Indonesia sebagai produsen ikan terbesar dunia lima tahun mendatang.

Harapan itu dikemukakan Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad seusai penebaran simbolis dua juta benih ikan nila dan ikan mas di danau sekitar Pabrik Semen Tonasa, Kecamatan Bonggoro, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan, produksi ikan tangkap di laut terus menurun sejak tahun 2007. Produksi ikan tuna yang tiga tahun lalu mencapai 194.173 ton, tahun 2008 turun menjadi 191.558 ton. Produksi ikan cakalang pada periode sama turun dari 301.531 ton menjadi 296.769 ton.

Tahun lalu Kementerian Kelautan dan Perikanan menebar empat juta benih ikan di Danau Batur, Bali, dan Danau Sentani, Papua. Selain meningkatkan keberagaman jenis ikan yang hidup di danau, restocking ikan bertujuan memberi kepastian tangkapan bagi warga sekitar danau.

Nurdin, seorang warga sekitar Danau Tonasa, menyambut baik program pelestarian ikan air tawar ini. Dia berharap penebaran benih ikan mampu memperbaiki hasil tangkapan sehari-hari.

Upaya membantu nelayan juga dilakukan lewat pembentukan Badan Layanan Umum (BLU) permodalan sejak tahun lalu. Pembentukan BLU karena unit pelayanan teknis (UPT) di daerah baru sebatas melayani masyarakat melalui pelatihan teknologi di bidang perikanan, sementara fungsi bisnis kurang dijalankan. BLU Pandu Karawang, Jawa Barat, dinilai sebagai salah satu contoh yang berhasil.

Sumber : Kompas (2010)

DKI siapkan fresher daging di pasar tradisional


Pemprov DKI menyiapkan sedikitnya 250 unit lemari pendingin (fresher) yang akan ditempatkan di pasar tradisional untuk para pedagang daging ayam menyimpan dagangannya.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DKI Edy Setiarto mengatakan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DKI Edy Setiarto mengatakan lemari khusus itu disiapkan untuk membantu pedagang menjaga kualitas dagangannya dengan sistem rantai dingin. “Fresher yang sudah kami siapkan itu segera didistribusikan ke pasar tradisional yang menjual daging ayam, untuk menyimpan daging ayam sebelum digelar untuk dijual,” katanya di Jakarta hari ini.

Dia tidak mengungkapkan berapa harga setiap unit lemari pendingin itu termasuk dua unit mobil boks dengan sistem pendingin yang dapat menjaga kualitas daging yang akan didistribusikan ke pasar tradisional.

Mobil boks berpendingin itu, lanjutnya, berada di tempat penampungan dan rumah pemotongan ayam yang dibangun Pemprov DKI untuk merealisasikan program revitalisasi perunggasan dan relokasi rumah pemotongan ayam (RPA).

Menurut Edy program reloksi RPA dilaksanakan berdasarkan Perda No.4/2007 tentang Pengendali, Pemeliharaan, dan Distribusi Unggas, serta SK Gubernur DKI No.1627/2009 tentang Relokasi RPA Liar di Jakarta. Adapun tempat usaha penampungan dan RPA di Jakarta mencapai total 1.950 tempat yang sebagian besar berada di Jakarta Timur dan Jakarta Pusat. “Sebagian besar mencapai 84% diatara RPA itu rawan tempat penyebaran virus flu burung,” ujarnya.

Sumber : Bisnis Indonesia (2010)

Sertifikasi Tak Naikkan Harga


Pelaku budidaya udang wajib penuhi standardisasi internasional. Kewajiban itu semakin kuat seiring keputusan Aquaculture Stewardship Council membentuk lembaga sertifikasi udang tahun 2011.

Aquaculture Stewardship Council (ASC) di Jakarta, 9-11 Maret, menyusun finalisasi standardisasi budidaya dengan melibatkan negara produsen, pelaku bisnis, dan ilmuwan.

Fisheries Program Leader Word Wild Fund Indonesia Imam Musthofa menjelaskan, prinsip standardisasi antara lain budidaya ramah lingkungan, perlindungan pekerja, pengelolaan kesehatan udang, pengelolaan stok indukan, dan penyakit.

Menurut Ketua Perhimpunan Petambak Plasma Udang Windu PT Aruna Wijaya Sakti Nafian Faiz, sertifikasi udang tak memberikan imbal balik pada peningkatan kesejahteraan petambak. Harga udang petambak tetap rendah meski memenuhi persyaratan.

Direktur Perbenihan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Ketut Sugama mengakui, standardisasi yang digulirkan ASC sulit diterapkan sepenuhnya di Indonesia. Ini karena petambak udang nasional didominasi oleh petambak rakyat dengan lahan sempit dan teknologi sederhana.

”Pemerintah berupaya meminta kelonggaran waktu pelaksanaan sertifikasi bagi petambak kecil,” ujar Ketut.

Ketua Shrimp Club Indonesia Iwan Sutanto mengingatkan pemerintah untuk melindungi petambak kecil agar tidak terlibas persaingan pasar. Indonesia telah menerapkan standardisasi dan sertifikasi budidaya udang yang mengacu standar internasional. Namun, sertifikasi itu belum mendunia.

Sumber : Kompas (2010)

Pembukaan Tambak Perlu Dihentikan


Kementerian Kelautan dan Perikanan tidak akan menambah luasan tambak karena berisiko merusak hutan bakau serta memperberat pencemaran dalam proses budidayanya.

Namun, produksi udang ditargetkan naik dari 400.000 metrik ton menjadi 699.000 metrik ton pada 2014. Peningkatan produksi akan dicapai dengan merevitalisasi 180.000 tambak telantar tidak produktif.

Direktur Perbenihan Kementerian Kelautan dan Perikanan Ketut Sugana menyatakan, pertambahan luasan tambak udang sesuai dengan data berkurangnya luasan hutan bakau. Konversi hutan bakau menjadi tambak merupakan salah satu penyebab utama kerusakan hutan bakau.

”Dalam dua tahun, luasan tambak bertambah dari 420.000 hektar menjadi 450.000 hektar. Data menunjukkan, penambahan luas tambak menjadi salah satu penyebab kerusakan hutan bakau. Karena itu, pencapaian target kenaikan produksi udang itu tidak dengan membuka tambak baru,” kata Ketut seusai membuka Shrimp Aquaculture Dialogue di Jakarta, Selasa (9/3).

Ia menyatakan, dari 450.000 hektar tambak intensif dan tradisional, 40 persen di antaranya telantar dan tidak berproduksi maksimal. ”Revitalisasi tambak yang rusak lebih aman bagi lingkungan dan kelestarian hutan bakau. Revitalisasi harus dilakukan baik pada tambak telantar yang dikelola secara tradisional ataupun intensif,” kata Ketut.

Dia membenarkan bahwa di antara 180.000 hektar tambak yang telantar terdapat tambak intensif oleh industri perikanan besar, termasuk 16.000 hektar tambak udang sebuah perusahaan di Lampung. ”Pemerintah memberikan tenggat tiga bulan untuk merevitalisasi tambak mereka. Jika tidak selesai, akan diambil langkah lain untuk melanjutkan revitalisasi,” katanya.

Staf Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara), Mida Novawanty Saragih, menyatakan, industri tambak intensif berskala besar adalah perusak utama hutan bakau. ”Tambak 16.000 hektar di Lampung merusak hutan bakau bukan hanya saat dibuka, melainkan juga dalam proses pemberian pakan yang mencemari air sehingga bakau mati. Tambak yang ditelantarkan itu juga menyebabkan banjir yang melanda 25 kecamatan,” katanya.

Saragih menyatakan, ”Industri tambak tidak menghasilkan keuntungan berarti bagi Indonesia dan para petani tambak selama industri tambak udang Indonesia dikuasai satu kelompok usaha saja. Melalui jaringan perusahaannya, dia menguasai 60 persen produksi udang nasional, juga mendominasi industri udang di 70 negara. Tambak hanya menambah kerusakan lingkungan, tanpa memperbaiki kesejahteraan rakyat,” kata Saragih.

Petani tambak plasma asal Lampung yang juga aktivis Perkumpulan Petambak Plasma Udang Windu, Nafian Faiz, menyatakan, target pemerintah menetapkan standardisasi dan penambahan produksi udang nasional ironis dengan fakta ribuan petambak plasma yang kehilangan pendapatan karena tambak ditelantarkan pengelola plasma.

”Di Lampung, 4.000 petambak telantar karena 11 blok tambak plasma belum direvitalisasi. Standardisasi produksi tidak ada maknanya jika tidak meningkatkan kesejahteraan petambak,” kata Nafian.

Sumber : Kompas (2010)