Zonanugera's.com

Beranda » Zona Pendidikan » BEBASKAN SISWA MEMBACA APA SAJA

BEBASKAN SISWA MEMBACA APA SAJA

pas1

Oleh Drs. Miftachul Ulum

Kepala SD Maarif Jogosari Pandaan

Masalah klasik yang selalu saja memrihatinkan kita bersama adalah rendahnya minat baca. Ini tidak saja berlaku di sekolah-sekolah tetapi juga di masyarakat umum. Tulisan ini tidak hendak menyoroti apa dan bagaimana penyebab itu semua, sebab hal itu hanya akan menjadi diskusi dan wacana yang berkepanjangan. Artikel ini lebih tertarik pada mencari solusi kreatif mengembangkan minat baca, khususnya kepada siswa, terutama di sekolah-sekolah dasar.

Dari pengalaman dan pengamatan selama menjadi guru, saya berkeyakinan bahwa sebenarnya anak-anak SD, terutama kelas-kelas awal, memiliki minat baca yang tinggi. Bila disodorkan setumpuk buku, terutama yang penuh gambar, niscaya mereka berebut mengambilnya. Anak-anak pada dasarnya gemar membaca, selaras dengan rasa ingin tahunya yang berkobar. Tetapi yang secara bertahap, entah mengapa, hasrat yang besar itu pelahan-lahan menyurut. Begitu menginjak remaja, umumnya minat mereka terhadap dunia membaca (juga menulis) merosot tajam.

Ini fenomena umum, sehingga dianggap hal yang wajar. Padahal kita perlu meneliti mengapa terjadi kecenderungan seperti itu. Saya khawatir jangan-jangan ada yang salah dalam sistem pendidikan kita. Mungkin ada yang tidak beres dalam pengelolaan kelas kita, dalam membangun iklim kondusif di sekolah sehingga kegiatan sepenting membaca menjadi tidak menarik dan terabaikan. Padahal tidak ada yang membantah bahwa membaca adalah kegiatan yang terpaling dalam dunia pendidikan formal.

Mungkin kritik Edward T. Hall patut didengar kembali. “Salah satu kesalahan terbesar pendidikan modern adalah overstructuring,” katanya. Semua kegiatan dilaksanakan kelewat terprogram formal dan kaku sehingga tidak memberi peluang improvisasi, kreativitas, tidak membolehkan unsur bermain di setiap titik pada proses pendidikan.

Kecakapan baca-tulis-hitung (calistung) di sekolah dasar adalah pondasi utama bagi siswa untuk mengembangkan potensinya pada jenjang pendidikan berikutnya. Tetapi sayang pembelajaran baca-tulis belum kita kembangkan secara optimal. Padahal kecakapan membaca (reading skill) bukan hanya berarti anak dapat membaca cepat, tepat artikulasi, dan fasih pelafalannya. Justru yang terpenting dalam reading skill adalah kemampuan anak untuk dapat memaknai (making meaning) atau menangkap inti informasi kegiatan membaca yang sesungguhnya. Ketrampilan menulis bukan sekadar siswa dapat menulis rapi, jelas, dan tepat penggunakan huruf besar serta meletakkan titik koma. Seharusnya ketrampilan menulis berarti  siswa mampu menuangkan gagasan atau mendeskripsikan segala sesuatu secara tertulis dengan logis dan komunikatif, betapapun sederhananya ide/topik yang diungkapkan.

Oleh karena itu sudah saatnya pembelajaran membaca dan menulis dikembangkan menjadi proses pembelajaran yang menarik. Menarik dalam arti merangsang minat anak dan tidak “overstructuring’ sebagaimana kritik Edward T. Hall tadi.

Di tempat kami, SD Maarif Jogosari, Kec. Pandaan, Kab. Pasuruan, telah kami terapkan program “Membaca Bebas.”   Program ini semula dirancang untuk mengoptimalkan pelajaran Bahasa Indonesia tetapi ternyata kemudian berkembang untuk pembelajaran bidang studi lainnya. Targetnya adalah siswa mampu menangkap info dari bahan tertulis yang dibacanya.

Lewat program membaca bebas ini siswa akan dihadapkan kepada bacaan yang sesungguhnya (buku, majalah, koran, cergam, brosur, hingga label kotak obat) dalam jangka waktu tertentu. Kemudian di akhir sesi siswa diminta mengisi lembar monitoring. Secara acak juga dilakukan semacam tes lisan kepada beberapa siswa untuk mengetahui seberapa jauh daya serap mereka terhadap materi yang dibacanya. Ini juga semacam upaya pengendalian preventif agar anak tidak cuma main-main selama kegiatan membaca bebas berlangsung.

Dasar dari program membaca bebas ini adalah metode pembelajaran literasi. Sebuah pendekatan yang berpendirian bahwa pengembangan kecakapan membaca-menulis akan lebih efektif bila siswa dihadapkan langsung pada praktik baca-tulis yang sesungguhnya, bukan sekadar latihan. Jadi membebaskan anak langsung menikmati buku atau majalah akan lebih bermanfaat daripada sekadar latihan membaca “bacaan rekaan” yang umumnya terdapat pada buku-buku paket seperti:  Ini Bapak Budi. Itu Harimau.

Pendekatan literasi menekankan pembelajaran bahasa secara menyeluruh (whole language). Maka empat ketrampilan bahasa (mendengar, berbicara, membaca, dan menulis) semestinya dikembangkan secara terpadu dalam satu kesatuan. Oleh karena itu  sekolah sedapat mungkin menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga anak dapat tenggelam (”immersion”) dalam suasana membaca. Misalnya perpustakaan yang memadai atau ruang kelas yang banyak buku dan majalah. Analoginya, bila siswa setiap hari sering melihat keluarganya aktif berlatih jaran kepang, maka cepat atau lambat dia pasti akan gemar jaran kepang.

***

Yang spesifik dari kegiatan membaca bebas adalah memberi kebebasan sepenuhnya kepada anak untuk memilih bacaan yang disukainya. Suka-suka dia pilih apa. Bahkan memilih komikpun tak dilarang. (Apa salahnya membaca komik?) Tujuan utama dari membaca bebas adalah membangun kegemaran anak terhadap buku. Bagaimana mungkin anak cinta membaca bila pagi-pagi sudah dipaksa membaca buku yang sama sekali tidak menarik hatinya?

Guru perlu menahan diri untuk tidak tergesa-gesa berbuat “mulia” yaitu terlalu banyak memberi pengarahan ini itu, harus begini harus begitu merasa serba tahu bacaan apa yang terbaik untuk anak-anak itu. Jangan terburu-buru menghubungan kegiatan membaca bebas dengan materi pelajaran (yang cenderung membosankan itu).

Sejauh yang saya ketahui, tidak ada penelitian yang menemukan bukti dampak negatif dari kegiatan membaca, membaca buku yang tak bermutu sekalipun. Bila kebebasan dikembangkan, biasanya anak jadi antusias dalam membaca. Yang senang dengan dunia binatang biarkan berlama-lama membaca buku tentang animal world. Demikian juga yang gemar olahraga pasti suka membaca kiprah para bintang sepabola. Dalam tempo yang tidak lama dia bakal menjadi pembaca yang baik bahkan dapat meningkat menjadi “kutu buku” (tak ada  yang negatif sama sekali dengan julukan kutu buku!).

Anak yang belum gemar membacapun tidak perlu dijejali saran betapa pentingnya membaca bagi masa depannya. Tidak bakal masuk. Jauh lebih bijak jika dia diiming-imingi dengan buku-buku yang penuh gambar dan tidak banyak tulisannya. Komik sangat baik untuk memancing pembaca pemula.

Pengalaman yang kami temui, sekali diberi kebebasan, anak-anak itu secara bertahap akan ketagihan membaca. Membaca menjadi ajang perlombaan yang mengasyikan. Bahkan dampaknya kami jadi agak kewalahan menyediakan stok bacaan baru. Bila anak sudah gemar membaca niscaya wawasannya akan lebih luas dibanding teman sebaya umumnya. Kemampuan bernalar dan menulis (mengarang) juga bertumbuh karena dia diam-diam mendapat contoh tulisan yang baik dan logis.

Sebagai pasangan program membaca bebas adalah menulis bebas. Seusai membaca siswa perlu dibiasakan menuliskan kembali apa yang telah diperoleh dari membacanya. Itu bukan harus berarti menyuruh siswa membuat rangkuman. Biarkan dia menuangkan respon bebasnya terhadap buku yang barusan dibacanya. Boleh saja dia justru mengungkapkan kejengkelannya lantaran buku yang dibacanya kelewat berat atau bertele-tele.

Membaca dan menulis, menurut Hernowo penulis buku Quantum Reading, adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Sungguh sayang orang yang gemar membaca tetapi tidak mencatat hal-hal penting yang telah diperolehnya. “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya,” katanya mengutip ungkapan terkenal Ali bin Abu Thalib.

Nah, mari kita ciptakan kondisi agar siswa-siswi gemar membaca, termasuk gurunya. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: