Zonanugera's.com

Beranda »

Ini Dia Alternatif Kambing Perah

pas1

anas nafian web

Produksi susunya bisa dua kali lipat Peranakan Ettawa (PE), kambing perah yang umum dipelihara peternak di Indonesia.
Bulunya pendek berwarna putih atau krem dengan titik hitam di hidung, telinga, dan aambingnya. Hidungnya lurus dan muka berupa segitiga. Telinganya sederhana, tegak ke sebelah dan ke depan. Ekornya tipis dan pendek.
Demikian morfologi kambing Saanen asal dari Swiss itu. Ternyata tidak hanya penampilannya saja yang unik dan bagus, hasil produksi susunya pun sangat baik. Menurut Nugroho Wicaksono, Manajer Taurus Dairy Farm di Sukabumi, Jabar, kambing jenis ini mampu menghasilkan rata-rata produksi susu sebanyak 1,5 liter/hari. Bahkan pada masa puncak, produksi bisa sampai 3 liter/hari. Di peternakannya, produksi susu kambing ini rata-rata 150 liter/hari dari 211 ekor.
Seperti susu kambing lainnya, harga jual susu kambing ini di pasaran berkisar Rp10.000—Rp20.000/liter. “Melihat hasil ini, kapasitas produksi akan kami akan diproyeksikan sampai 300 liter/hari,” tandas Nugroho yang mulai mengembangkan Saanen sejak 1996.
Produksi Tinggi
Nugroho berkisah, mula-mula pihaknya mengusahakan kambing Peranakan Ettawa (PE). Namun produksi susunya kurang memuaskan, hanya 0,25—0,75 liter/hari/ekor. Demikian pula jenis kambing lain yang ada di Indonesia, produksinya tidak memuaskan. Karena itu, pihaknya mengimpor kambing Saanen sebanyak 20 ekor betina dan jantan 5 ekor dari Australia. Keunggulan produksi Saanen bisa mengungguli jenis Nubian, British Alpine, dan Toggenburg.
Setelah 10 tahun, jumlah populasi kambing tersebut bertambah hingga 200 ekor. Kecuali tertarik untuk menghasilkan susu, “Pengembangan kambing diarahkan juga ke grading up (peningkatan) kualitas kambing lokal (persilangan PE),” ungkap Nugroho.
Dengan kadar lemak sekitar 4—5%, susu kambing jenis ini cocok untuk dikonsumsi sebagai susu segar. Ukuran molekul proteinnya relatif lebih kecil sehingga susu ini mudah dicerna konsumen yang diare bila minum susu sapi (lactose intolerance).
  
Agrina, 2008

%d blogger menyukai ini: