Zonanugera's.com

Beranda » Zona Agrobisnis » Pertanian » Tatkala Manis Berubah Menjadi Getir

Tatkala Manis Berubah Menjadi Getir

pas1

anas nafian web

Gubernur Jawa Timur Soekarwo meminta agar gula produksi daerahnya tidak keluar ke daerah lain karena stok gula di Jatim tinggal 144.000 ton. Langkah ini untuk mencegah terjadi kelangkaan gula di Jatim.

Jika sampai terjadi kelangkaan, harga gula diprediksikan bakal lebih membubung. Sekarang kenaikan sudah semakin tidak terkendali. Di pasar tradisional di Surabaya dan kota-kota lain di Jatim, seperti Malang dan Jember, sudah menyentuh harga Rp 12.000 per kilogram. Di supermarket sudah mencapai Rp 13.700 per kilogram. Padahal, pada pertengahan tahun 2009, harga masih Rp 7.000- Rp 8.000 per kilogram.

Kenaikan harga ini merupakan yang tertinggi setidaknya dalam 10 tahun terakhir. Bagi masyarakat Jatim, kenaikan ini mengagetkan karena Jatim merupakan wilayah produsen gula terbesar di Indonesia, yaitu lebih kurang 45 persen. Selebihnya tersebar di beberapa daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, dan Sulawesi Selatan.

Pada 2009, produksi gula dari total 32 unit pabrik gula di Jatim mencapai sekitar 1,1 juta ton. Jika konsumsi gula masyarakat dan industri Jatim sekitar 480.000 ton, mestinya stok berlimpah sehingga tidak perlu terjadi kenaikan harga demikian karena asumsinya bahwa jumlah produksi jauh lebih besar dari permintaan pasar. Masalahnya gula produksi Jatim memang bukan hanya untuk pasar Jatim. Dari tangan pedagang, gula produksi Jatim mengalir ke sejumlah daerah, seperti seluruh Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sebagian Sulawesi, dan Sumatera Utara. Bahkan, tidak mustahil gula dari Jatim yang beredar di Kalimantan itu merembes sampai ke Malaysia, apalagi saat harga gula di pasar internasional naik secara ugal-ugalan seperti sekarang ini.

Pola peredaran gula dari Jatim demikian merupakan konsekuensi ketika harga gula diserahkan kepada mekanisme pasar secara penuh. Gula akan mengalir ke wilayah pasar yang memberikan profit tertinggi. Misalnya, jika Sumatera Utara memberikan keuntungan tertinggi, tak akan bisa dicegah gula dilarikan ke sana.

Pasar internasional

Sebagai komoditas yang sepenuhnya ditentukan mekanisme pasar, maka harga gula akan ditentukan oleh situasi pasar internasional, seperti kopi, tembakau, dan kelapa sawit. Sekarang ini harga gula di pasar internasional sedang mencapai puncaknya dalam tiga dekade terakhir, yaitu 721 dollar AS sampai 731 dollar AS per ton FOB atau harga di negara asal belum termasuk biaya premium dan pengapalan. Adapun harga normal berkisar 320 dollar AS sampai 350 dollar AS per ton FOB.

Kenaikan harga ini karena sejumlah produsen gula terkemuka di dunia mengalami krisis pergulaan. Misalnya, India yang mengalami kemerosotan panen tebu karena gonjang-ganjing iklim. Demikian pula panen tebu China juga tidak begitu bagus sehingga menambah impornya.

Karena pemulihan tanaman itu dibutuhkan waktu beberapa bulan, hampir pasti krisis harga gula ini akan berlangsung beberapa bulan pula. Apalagi kalau Brasil yang juga produsen gula utama dunia melakukan konservasi pengolahan tebunya dari gula ke bioetanol energi untuk menyikapi kenaikan harga minyak dunia, maka krisis gula akan lebih panjang dan parah.

Rencana Gubernur Jatim Soekarwo yang hendak menerbitkan peraturan gubernur yang akan menentukan batas harga gula yang dijual di pasar agar tidak sampai memberatkan konsumen akan sulit efektif. Harga gula tetap akan mengikuti mekanisme pasar.

Memang bisa saja peraturan gubernur itu diikuti langkah ”politik-ekonomi” dengan melakukan represi terhadap pedagang. Misalnya menuduh pedagang menahan stok gulanya. Dilanjutkan dengan melakukan penggerebekan ke gudang-gudang milik pedagang dengan tuduhan melakukan penimbunan. Langkah itu sekilas memang populis, tetapi merugikan pedagang dan antipasar. Padahal, sebagai pedagang, sangat wajar kalau memiliki gudang penyimpanan. Dan wajar kalau pedagang selalu mengincar profit tertinggi.

Soekarwo mengesampingkan operasi pasar gula untuk membantu konsumen dengan alasan tidak menyelesaikan persoalan. Apalagi stok yang ada di produsen terbatas.

Padahal, operasi pasar ini sebenarnya langkah yang lebih realistis daripada menempuh langkah ”politik-ekonomi”. Operasi pasar itu dibiayai haruslah dengan dana subsidi dari negara untuk menolong masyarakat.

Adapun caranya, pemerintah membeli gula dengan harga sesuai ketentuan mekanisme pasar, kemudian melepas kepada konsumen, khususnya masyarakat berpendapatan rendah, dengan harga yang terjangkau, misalnya harga sebelum kenaikan yaitu Rp 7.000 per kilogram. Pemerintah memberikan subsidi demikian merupakan hal yang biasa dilakukan negara-negara lain, apa pun aliran sistem ekonominya.

Sekarang ini mekanisme operasi pasar itu mendesak ditempuh sebelum keadaannya lebih parah. Ini harus dilakukan bukan saja oleh Pemerintah Provinsi Jatim, tetapi sebagai kebijakan pemerintah pusat. Sebelum manisnya gula benar-benar menjadi getir bagi nasib rakyat, termasuk bagi petani pembudidaya tebu.

Sumber : Kompas (2010)

%d blogger menyukai ini: