Zonanugera's.com

Beranda » Zona Agrobisnis » Pertanian » Target Ekspor Tidak Diubah

Target Ekspor Tidak Diubah

pas1

anas nafian web

Meski kinerja ekspor tahun lalu merosot 14,98 persen dibanding ekspor tahun 2008, pemerintah tetap tidak akan mengubah target ekspor tahun 2010, yakni 114,6 miliar dollar AS. Pe- merintah optimistis, realisasi ekspor tahun ini akan banyak disumbang oleh produk tambang dan CPO.

”Pokoknya, proyeksi ekspor Indonesia pada 2010 tidak akan kami ubah,” ujar Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Selasa (2/2), seusai menghadiri Rapat Paripurna DPR yang mengagendakan Jawaban Pemerintah terhadap Pandangan Umum Fraksi-fraksi DPR tentang Rancangan Undang-Undang tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan APBN Tahun Anggaran 2008.

Menurut Sri Mulyani, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pelemahan ekspor tahun 2009 tidak seburuk yang diperkirakan sebelumnya.

Pertumbuhan ekspor tahun 2009 adalah minus 14,98 persen, lebih baik dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya, yakni minus 25 persen.

”Pemulihan ekonomi pada 2010 akan didorong oleh kontribusi ekspor yang signifikan. Hanya memang, dari segi komposisinya, ekspor ini masih didominasi bahan baku, yakni CPO (minyak sawit mentah), batu bara, dan barang tambang lain,” ujarnya.

Hal yang sama terjadi pada impor Indonesia yang cenderung memasukkan bahan baku dan barang modal bagi industri di dalam negeri.

Ekspor dan impor yang sangat bergantung pada bahan mentah akan menggiring Indonesia pada risiko fluktuasi harga di pasar internasional.

”Biasanya, komponen impor pada barang manufaktur masih tinggi. Karena ketergantungan pada raw material (bahan mentah), akan mendorong ketergantungan pada fluktuasi harganya,” ungkap Menkeu.

Sehari sebelumnya BPS mengumumkan, ekspor kumulatif (Januari-Desember 2009) mencapai 116,49 miliar dollar AS atau turun 14,98 persen dibandingkan dengan ekspor tahun 2008, yakni 139,6 miliar dollar AS.

Adapun nilai impor 2009 tercatat 96,86 miliar dollar AS. Dengan demikian, nilai ekspor lebih tinggi 19,63 miliar dollar AS dibandingkan dengan nilai impornya atau terjadi surplus neraca perdagangan pada tahun 2009.

Tiga komoditas

Ekspor didominasi tiga produk berbasis sumber daya alam, yakni CPO, batu bara, dan tembaga, dengan kenaikan nilai ekspor masing-masing 1,09 miliar dollar AS, 268,84 juta dollar AS, dan 284 juta dollar AS.

Adapun ekspor manufaktur sepanjang tahun 2009 menurun 16,93 persen. Akan tetapi, pertumbuhan produksi industri pengolahan besar dan sedang meningkat 1,33 persen dibandingkan tahun 2008. Ini artinya, industri manufaktur besar dan sedang dipaksa untuk menjual barangnya di dalam negeri.

Kepala BPS Rusman Heriawan menegaskan, sebelum perdagangan bebas ASEAN-China diberlakukan 1 Januari 2010, produk dari China sudah menyerbu Indonesia.

Pada masa mendatang, produk sandang dari China akan semakin banyak membanjiri pasar Indonesia dengan harga murah.

Ekonom Universitas Indonesia, Mohammad Chatib Basri, menyebutkan, pertumbuhan ekspor nonmigas ke China tahun 2009 tumbuh 14,7 persen dibandingkan 2008. Adapun impor nonmigas dari China tumbuh negatif 9,7 persen.

”Dengan catatan itu, pendapat yang menyatakan bahwa impor dari China melonjak tidak sepenuhnya tepat. Apalagi jika yang diukur adalah ekspor impor tahun 2004. Pada tahun 2004, barang yang keluar masuk Batam tidak diperhitungkan,” ujarnya.

Catatan BPS menunjukkan, total impor nonmigas China ke Indonesia tahun 2009 mencapai 13,496 miliar dollar AS atau menurun dibandingkan dengan impor nonmigas tahun 2008 yang sebesar 14,95 miliar dollar AS.

Adapun ekspor nonmigas Indonesia ke China pada 2009 mencapai 8,9 miliar dollar AS atau meningkat dibandingkan tahun 2008 yang sebesar 7,78 miliar dollar AS.

Sumber : Kompas (2010)

%d blogger menyukai ini: