Zonanugera's.com

Beranda » Zona Agrobisnis » Peternakan » Pedagang Ayam Resah

Pedagang Ayam Resah

pas1

anas nafian web

Para penampung dan pemotong ayam di kawasan Jakarta tetap ragu atas ajakan pemerintah bergabung dalam pemusatan rumah potong ayam. Selain itu, mereka juga khawatir jika tawaran itu diterima pedagang yang selama ini menjadi pelanggannya diambil pesaing.

Yanto, pemotong ayam di Radio Dalam, Jakarta Selatan, masih enggan pindah ke Rumah Potong Ayam (RPA) Kebun Bibit di Petukangan Utara, Jakarta Selatan. Dia khawatir pedagang yang selama ini menjadi pelanggannya diserobot orang lain karena jauh dari lokasi pemotongannya.

”Jika kehilangan pelanggan, saya terpaksa memecat lima karyawan. Padahal, mereka punya keluarga,” kata Yanto, Kamis (4/3) di Jakarta.

Kekhawatiran yang sama juga dikatakan Hadi, pemotong ayam yang punya tiga karyawan di Poncol, Jakarta Pusat. Kekhawatirannya karena tak ada pemusatan RPA di wilayah Jakarta Pusat.

Bergabung ke RPA

Kepala Dinas Kelautan dan Peternakan DKI Jakarta Edy Setiarto mengatakan, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengajak para penampung dan pemotong ayam tradisional bergabung dalam pemusatan RPA. Dengan cara ini, jumlah orang yang akan kehilangan pekerjaan bisa ditekan.

”Kami sedang membujuk mereka mau masuk ke dalam RPA. Beberapa kemudahan diberikan kepada mereka yang mau menempati pemusatan RPA, seperti pembebasan retribusi,” ujar Edy.

Menurut dia, kekhawatiran para penampung dan pemotong ayam bahwa mereka akan kehilangan pekerjaan sama sekali tidak tepat. Pemerintah tidak berniat mematikan usaha mereka, tetapi hanya memusatkan lokasi usaha.

Sehari sebelumnya, Rabu, ratusan orang yang tergabung dalam Himpunan Pedagang Ayam Jakarta berunjuk rasa meminta pembatalan pemusatan RPA di lima lokasi yang ditunjuk Pemprov DKI. Mereka menganggap pemusatan itu akan mematikan usaha dan membuat sekitar 22.000 pekerja langsung dan tidak langsung kehilangan pekerjaan.

Wakil Wali Kota Jakarta Timur Asep Syarifudin mengatakan, berbagai sosialisasi untuk mengajak para penampung dan pemotong ayam bergabung di lima RPA yang disediakan pemerintah sudah dilakukan. Sebagian pelaku bisnis ayam sudah setuju, tetapi masih ada yang menolak.

Relokasi para penampung dan pemotong ayam akan dilakukan secara bertahap untuk mengurangi penolakan para pebisnis ayam. Namun, jika mereka tetap menolak, ruang yang dikhususkan bagi mereka akan dialihkan kepada orang lain.

Sementara itu, di tempat pemotongan ayam milik Yanto dan Hadi, ayam-ayam yang sudah dipotong digeletakkan begitu saja di lantai sehingga darahnya mengalir sampai ke gang kecil di depan rumah mereka. Ayam yang masih berbulu direbus dengan drum besi dan airnya tidak diganti meskipun sudah ratusan ayam direbus. Setelah bulu dicabuti, daging ayam kembali diletakkan di lantai, kadang bercampur dengan ayam yang baru dipotong.

Edy mengatakan, kondisi tempat pemotongan ayam di lingkungan permukiman berada dalam kondisi tidak layak. Kotoran, bulu, darah, dan bau ayam membuat ribuan penduduk terganggu kesehatannya. Selain itu, semua cara pemotongan dan pengolahan membuat daging ayam terkontaminasi besi dan bakteri E-coli. Penggunaan cairan pemutih dan formalin untuk pengawet juga sering terjadi.

Sumber : Kompas (2010)

%d blogger menyukai ini: