Zonanugera's.com

Beranda » Zona Agrobisnis » Perikanan » Pantainya Kaya Ikan, tetapi Mengimpor Ikan

Pantainya Kaya Ikan, tetapi Mengimpor Ikan

pas1

anas nafian web

Akibat blokade laut, kawasan pantai Jalur Gaza yang kaya ikan menjadi pengimpor ikan, kepiting, dan udang. Nelayan yang putus asa—akibat pemblokiran daerah pencarian ikan oleh kapal patroli Israel—menyelinap ke perairan Mesir. Dengan perahu motor kecil, mereka membeli ikan dan membawanya pulang.

Sebagian warga lain mengangkut ikan lewat jalur darat dengan cara menyelundupkan melalui terowongan. Biasanya ikan dikemas dahulu di kotak-kotak busa plastik berisi es. Sekalipun Laut Mediterania tepat di depan Gaza, penduduk lokal terpaksa membangun kolam-kolam ikan untuk memenuhi kebutuhan protein bagi 1,5 juta penduduknya.

Usaha peternakan ikan di Gaza bermunculan dalam dua tahun terakhir untuk mengatasi kesulitan akibat blokade laut. Salah satu peternakan ikan dijalankan di wilayah eks permukiman Israel. ”Orang-orang mencari jalan keluar,” kata Adnan Abu Rialeh (50), nelayan yang berlayar ke Pelabuhan Said di Mesir tiga kali dalam sebulan terakhir untuk membeli sarden.

Sebanyak 3.600 nelayan Gaza hanya diizinkan mencari ikan dalam radius tiga mil laut (4,8 kilometer). Jika melewati batas itu, mereka akan ditembak kapal meriam Israel. ”Sudah lima nelayan tewas, lebih dari 20 orang terluka, dan puluhan lainnya ditangkap di perahu motornya,” kata Gisha, kelompok HAM Israel.

Nizar Ayyash, seorang nelayan, mengatakan, zona yang diizinkan untuk nelayan itu berada di perairan miskin ikan akibat penangkapan berlebihan. Dia mengibaratkan zona itu kolam renang. ”Bukan laut. Kami memancing di kolam renang,” kata Ayyash.

Blokade laut adalah bagian dari penutupan Gaza yang dilakukan Israel dan Mesir. Akses ke Gaza itu sangat terbatas setelah penangkapan seorang tentara Israel, Gilad Shalit, tahun 2006. Blokade semakin diperketat setelah Hamas merebut Gaza pada 2007.

Israel mengatakan, blokade bertujuan mencegah penyelundupan senjata serta membatasi ruang gerak militan. Ratusan senjata diselundupkan melalui terowongan. Namun, Israel mengaku juga telah menangkap pengiriman lewat laut.

Bulan lalu, sejumlah tong penuh bahan peledak dikirim dari Gaza melalui Mediterania dan terdampar di lepas pantai Israel. Setelah diperiksa, ternyata bahan peledak tidak menyebabkan cedera. Pada April 2009, sebuah perahu nelayan berisi bahan peledak meledak di dekat sebuah kapal angkatan laut. ”Laut masih merupakan faktor penting sebagai arena teror,” kata Letnan Kolonel Avital Leibovich, jubir Angkatan Bersenjata Israel.

Kalangan nelayan menuturkan, mereka tidak terlibat politik. Namun, Israel menghancurkan sumber kehidupan bagi 5.000 nelayan, yang dari usahanya telah menyumbang lebih dari 4 persen aktivitas perekonomian Gaza.

Pada suatu pagi baru-baru ini, di pelabuhan kecil Gaza City, para pria diam-diam menurunkan seluruh kotak berisi sarden dari Mesir lewat sebuah kapal. ”Sebagian besar sarden yang dijual di Gaza berasal dari Mesir,” kata Mohammed al-Hissi, seorang aktivis serikat buruh nelayan.

Dia mengatakan, 30 kapal Gaza kembali dari Mesir pagi itu membawa beberapa ton sarden. Kalau mereka menangkap di laut setempat hasilnya tidak banyak.

Abu Rialeh, yang bekerja sebagai nelayan sejak kecil, mengatakan, pelayaran ke Mesir dimulai bulan lalu dengan sedikit risiko. Sekarang, puluhan nelayan melakukan perjalanan berbahaya setiap hari dengan perahu motor kecil menyisir pantai untuk menghindari patroli Israel. Waktu tempuh bisa mencapai enam hingga 12 jam sekali jalan.

Rialeh mengatakan tidak akan ke Mesir lagi karena mahalnya biaya bahan bakar. Ikan dari Mesir bisa mencapai Gaza melalui cara lain. Pada suatu sore baru-baru ini, pekerja Palestina membawa empat kotak sarden yang telah dibekukan melalui salah satu terowongan penyelundupan di perbatasan Jalur Gaza-Mesir.

Caplok rumah Arab

Selain itu, Wali Kota Jerusalem berencana membangun taman arkeologi bernama King’s Garden. Proyek ini bakal menggusur puluhan rumah warga Arab di Jerusalem. Proyek King’s Garden adalah nama Ibrani untuk daerah di luar Kota Tua di Jerusalem atau populer sebagai Al-Bustan, serta menjadi hunian ribuan tahun warga Arab.

Daerah itu juga disebut Holy Basin, yang diyakini sebagai cikal bakal kota Jerusalem pada masa pemerintahan Raja Daud dan Salomon. Sekarang kawasan itu masih dipadati keluarga Arab walau sudah dikuasai Israel sejak perang 1967 tanpa persetujuan dunia internasional.

Jika proyek itu berlanjut, dapat menyulut konflik baru di kawasan tersebut.

Sumber : Kompas (2010)

%d blogger menyukai ini: