Zonanugera's.com

Beranda » Zona Agrobisnis » Pertanian » Panen Tiba, Harga Beras di Serang Berangsur Turun

Panen Tiba, Harga Beras di Serang Berangsur Turun

pas1

anas nafian web

Harga beras di Kota Serang, Provinsi Banten, berangsur turun setelah dalam beberapa bulan sebelumnya harga naik. Penurunan harga ini salah satunya dipicu datangnya masa panen. Namun, pada saat harga turun, jumlah pembelian beras di pasar justru turun dibandingkan dengan sebelumnya ketika harga beras tinggi.

Sidik, pedagang beras di Pasar Induk Rau, Kota Serang, Provinsi Banten, Senin (8/3), menuturkan, beras IR 64 mutu paling bagus saat ini dijualnya Rp 5.500 per kilogram (kg), turun daripada sebulan lalu yang harganya mencapai Rp 7.000 per kg.

Pada rentang waktu sama, harga beras IR 64 kualitas sedang pun turun dari Rp 6.500 per kg menjadi 5.300 per kg. Demikian pula harga beras IR 64 kualitas rendah turun dari Rp 6.000 per kg menjadi Rp 5.000 per kg.

Pada minggu pertama Maret pekan lalu, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Disperindagkop) Kota Serang mencatat bahwa harga beras IR 64 kualitas I, II, dan III masing-masing Rp 6.300 per kg, Rp 5.800 per kg, dan Rp 5.400 per kg.

Sebagai perbandingan, pada akhir Februari harga beras IR 64 kualitas I, II, dan III yang terpantau Disperindagkop Kota Serang masing-masing Rp 6.600 per kg, Rp 6.000 per kg, dan Rp 5.500 per kg.

Menurut Sidik, beras di pasar Rau dipasok antara lain dari petani di Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Sawah Luhur di Kota Serang, Ciomas di Kabupaten Serang, dan Karawang.

Sekitar 75 persen pembeli meminati IR 64, selebihnya memilih varietas beras lain. ”Ketika harga beras tinggi pembelian malah ramai tiap hari. Sekarang harga beras turun, tetapi yang beli malah berkurang,” kata Sidik.

Dia mencontohkan, ketika harga beras tinggi beberapa waktu lalu, dalam sehari dia bisa menjual hingga 10 ton beras per hari. Namun saat ini, dia rata-rata hanya mampu menjual 2 ton beras per hari.

Padahal, pembeli beras di pasar saat ini didominasi warga perkotaan. ”Warga dari desa-desa jarang yang membeli beras, mungkin mereka memanfaatkan sebagian hasil panen untuk dikonsumsi sendiri,” kata Sidik.

Kondisi inilah yang, menurut Sidik, menyebabkan pembelian beras sekarang tidak seramai saat harga beras tinggi beberapa waktu lalu, yakni ketika persediaan beras menipis. Pada waktu itu warga desa pun membeli beras di pasar.

Penurunan harga beras pun terjadi di tingkat penjual beras eceran yang masuk-keluar perkampungan. Harga beras ramos yang dua minggu lalu Rp 5.500 per liter saat ini turun menjadi Rp 5.000 per liter.

Sementara itu, Kepala Seksi Perlindungan Konsumen Disperindagkop Pemerintah Kota Serang Cahyana mengungkapkan, operasi pasar beras batal dilaksanakan di Serang. Pasalnya, harga eceran tertinggi yang ditetapkan, yakni Rp 5.500 per kg, dinilai terlalu tinggi untuk kualitas beras yang akan dijual dalam operasi pasar sehingga tidak diminati masyarakat. Kedua, beras untuk keluarga miskin saat ini juga mulai didistribusikan.

Sumber : Kompas (2010)

%d blogger menyukai ini: