Zonanugera's.com

Beranda » Zona Agrobisnis » Perikanan » Meracik Nutrisi Sendiri

Meracik Nutrisi Sendiri

pas1

anas nafian web

UNTUK membesarkan 1.200 gurami masing-masing berbobot 200 gram menjadi 600 gram/ekor selama 4,5 bulan, Edi Santoso membutuhkan 2,5 ton pelet senilai Rp16,5 juta. Namun, sejak 2006 dengan ukuran, masa budi daya, dan bobot panen sama, peternak di Purbalingga, Jawa Tengah, itu hanya mengeluarkan ongkos pakan Rp9,5 juta.

Edi menghemat Rp7,5 juta dari total biaya pakan setelah memberi 100% pakan buatan sendiri. Pakan itu terdiri atas bahan-bahan yang mudah diperoleh di sekitar tempat tinggalnya di Kecamatan Kemangkon. Bahan itu antara lain bekatul, ikan rucah, ampas tahu, dan mi atau bihun basah.

Untuk membuat 90 kg pakan, Edi meramu bahan-bahan itu. Ia menggiling 20 kg ikan rucah, 30 kg bekatul, 20 kg ampas tahu, dan 30 kg mi basah sisa. Jika tak ada mi bisa diganti 30 kg bihun. Bihun tersebut cukup direndam selama 5 menit sebelum digunakan. Selanjutnya adonan ditaruh di lantai semen dan diberi ragi 100 gram dan ditutup terpal. Ragi berfungsi mempercepat proses fermentasi yang berlangsung semalam.

Lepas masa fermentasi, adonan berwarna kecokelatan itu diberi tepung jagung 25 kg untuk memperkaya kadar protein. Sementara perekat memanfaatkan kandungan aci dalam mi atau bihun basah. “Setelah itu adonan dicetak dengan mesin pelet. Pelet kemudian dikeringkan dengan cara dijemur selama 1–2 hari sampai kadar airnya sekitar 8%,” kata Edi yang juga mencoba dengan bahan-bahan lain seperti campuran bungkil kelapa dan ampas kelapa.

Yang dilakukan Edi juga dikerjakan oleh Muhammad Azwar di Kecamatan Bawang, Banjarnegara. Sejak 2007 peternak gurami itu rutin membuat pakan gurami dari bahan-bahan, seperti ikan juwi sardinella sibogga (100 kg), bekatul (100 kg), mi basah (25 kg), dan ampas kedelai (20 kg). Semua bahan dicampur menjadi satu, ditambah ragi 2–3 ons dan difermentasi selama semalam. “Pada bahan ditambah juga 250–500 mg vitamin C,” kata Azwar yang menyebut biaya produksi pakan buatan itu sekitar Rp3.500/kg.

Pertumbuhan Sama

Bagaimana efek dari pakan itu? Menurut Edi, pertumbuhan gurami yang diberi komposisi 100% pakan pabrik dan 100% pakan buatan tak jauh berbeda. Bobot 600 g/ekor bisa dicapai selama 4,5 bulan budi daya dari tebar ukuran 200 g/ekor. Hal sama diamini Azwar yang menggunakan 100% pakan buatan sendiri. “Untuk mencapai bobot 600 g/ekor butuh 4,5 bulan,” kata dia.

Bahan-bahan yang digunakan Edi dan Azwar dipilih dengan pertimbangan tertentu. Bekatul, misalnya, dipilih karena kaya karbohidrat dan protein, masing-masing 51–55 g/100 g dan 14%. Ikan rucah lebih tinggi lagi, kadar proteinnya mencapai 38–40%. Pantas dengan kombinasi bahan-bahan itu kadar protein pakan pabrik 30,22% bisa dikejar.

Menurut Petrus Hary Tjahja Soedibya, pakan buatan bisa diberikan pada gurami dengan syarat protein mencukupi atau setara nilai protein pakan pabrik. Asupan protein penting karena selain menjadi sumber energi juga beperan pada pertumbuhan ikan. “Kebutuhan optimal protein berkisar 25–35%,” kata ahli nutrisi ikan dari Jurusan Perikanan dan Kelautan, Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto.

Komponen lain seperti lemak dan karbohidrat juga tidak boleh diabaikan karena berperan sebagai sumber energi. Kehadiran vitamin membuat metabolisme tubuh semakin baik dan menjaga kesehatan ikan. Pun mineral seperti natrium dan kalsium harus hadir untuk menjaga keseimbangan osmosis di dalam tubuh ikan.

Di luar pelet, pemberian pakan hijau seperti daun sente tetap diperlukan meski bukan pakan utama. Riset Hary membuktikan gurami akan mengalokasikan energi lebih banyak untuk metabolisme (58,44%) dibanding memakainya untuk tumbuh (7,52%) bila mengonsumsi sente. Bandingkan dengan pemberikan pakan cacing beku tubifex. Di sini alokasi untuk energi tumbuh mencapai 20,46% dan metabolisme 64,69%. “Sebab itu tak heran bila gurami yang diberi pakan daun, tekstur dagingnya lebih kenyal,” kata Hary.

Menurut Carmin Iswahyudi, peternak di Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, hijauan berupa daun sente dan kangkung darat punya manfaat lain. Sebelum 2008, sekitar 5% dari total populasi ikan gurami yang dipelihara Carmin diserang penyakit mata bisul. Namun setelah rutin diberi hijauan, 2% dari total bobot ikan per hari, gejala itu mereda. Diduga kandungan senyawa flavonoid, polifenol, dan saponin pada daun dan tangkai sente mendongkrak daya tahan ikan terhadap serangan penyakit.
Sumber : Lampung Post (2010)

%d blogger menyukai ini: