Zonanugera's.com

Beranda » Zona Agrobisnis » Pertanian » Meneropong Komoditas Agrobisnis

Meneropong Komoditas Agrobisnis

pas1

anas nafian web

Sektor pertanian berkontribusi besar bagi perkembangan ekonomi nasional. Sektor yang menjadi penyumbang output terbesar kedua setelah sektor industri ini tumbuh dari 3,4 persen (2007) menjadi 4,8 persen (2008). Prestasi ekspor yang ditorehkan sektor pertanian juga mumpuni.

Mengilapnya sektor ini tergambar pada sumbangan komoditas pertanian pada total ekspor yang meningkat. Pada periode Januari-September 2009, nilai ekspor komoditas pertanian mencapai 3,1 miliar dollar Amerika Serikat dengan kontribusi terhadap total ekspor naik dari 3,2 persen menjadi 3,9 persen (year on year).

Sementara itu, pada kurun waktu 8 tahun terakhir, nilai ekspor agrobisnis (produk pertanian dan olahannya, menurut SITC Rev.3) juga naik dari 6,6 miliar dollar AS pada tahun 2003 menjadi 26,9 miliar dollar AS pada tahun 2008.

Sementara itu, kontribusinya terhadap total ekspor menguat kencang dari 10,8 persen menjadi 19,7 persen pada periode yang sama.

Komoditas agrobisnis sendiri bukanlah pendatang baru di ranah ekspor Indonesia karena telah menjadi salah satu tulang punggung ekspor nasional.

Berdasarkan analisis pada data klasifikasi produk SITC 3 digit (Rev.3), produk minyak nabati (SITC 422), karet alam (SITC 231), dan kakao (SITC 072) merupakan tiga komoditas utama dengan pertumbuhan nilai ekspor (tabel 1) dan pangsa pasar yang tinggi di pasar global.

Pada tahun 2008, pangsa pasar komoditas minyak nabati mencapai 10,6 persen, komoditas karet alam sebesar 4,4 persen, dan komoditas kakao sebesar 0,9 persen.

Saat ini pasar utama komoditas minyak nabati Indonesia mencakup negara-negara di kawasan Asia (China dan India) dan Eropa (Italia dan Jerman), dengan produk andalannya adalah palm oil (SITC 4222) dan palm kernel oil (SITC 4224).

Di pasar dunia, taji Indonesia masih cukup kuat. Hal ini terlihat pada tahun 2008, saat ekspor produk tersebut ke pasar global menembus 14,6 miliar dollar AS atau naik 54,4 persen.

Hasil yang tentu saja menempatkan Indonesia sebagai pengekspor terbesar minyak nabati di dunia (tabel 2).

Semakin menggelembung

Pangsa pasar produk minyak nabati Indonesia di pasar global pun semakin menggelembung, dari 36,2 persen (2005) menjadi 40,2 persen (2008), di atas pangsa pasar Malaysia yang ikut meningkat dari 36,1 persen ke 37,7 persen.

Potensi permintaan pasar yang sangat besar, seperti pasar Asia, terus memacu investasi dan perluasan lahan yang cepat, seperti perkebunan kelapa sawit. Dalam tempo 3 tahun (2005-2008), luas areal perkebunan kelapa sawit meningkat dari 5,4 juta hektar menjadi sekitar 7 juta hektar.

Produktivitas pun relatif membaik, khususnya CPO yang naik dari 2,9 ton (2005) per hektar menjadi 3,6 ton per hektar (2008), dengan topangan produksi yang sebagian besar berasal dari Sumatera (Riau, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, dan Jambi) dan Kalimantan.

Meskipun terlihat tinggi, jika dibandingkan dengan Malaysia, produktivitas kita sebenarnya masih tertinggal.

Data Malaysian Palm Oil Board menunjukkan bahwa pada periode yang sama, produktivitas CPO Malaysia naik 3,8 ton per hektar menjadi 4,1 ton per hektar dengan jumlah lahan tertanam hanya meluas dari 4 juta hektar (2005) menjadi 4,5 juta hektar (2008).

Sementara untuk komoditas karet alam, permintaan terbesar datang dari Amerika Serikat, Jepang, dan China.

Kenaikan luas areal perkebunan karet dari 3,2 juta hektar (2005) menjadi 3,4 juta hektar (2008), diikuti produktivitas lahan yang naik tipis dari 0,8 ton per hektar menjadi 1 ton per hektar.

Lain lagi dengan komoditas kakao yang dominan diekspor ke Malaysia, Amerika Serikat, dan Singapura. Produktivitasnya justru menyusut di tengah penambahan luas areal lahan, yaitu dari 1,1 juta hektar menjadi 1,4 juta hektar.

Pada periode yang sama, tingkat produktivitas bahan baku cokelat ini turun dari 0,9 ton per hektar menjadi 0,8 per hektar.

Dari diskusi di atas, prospek komoditas Indonesia sebenarnya masih cukup cerah. Permintaan dari negara-negara tujuan ekspor, seperti China, India, dan AS, diproyeksi masih tinggi sejalan dengan pemulihan ekonomi yang mengerek harga komoditas.

Selain itu, era perdagangan bebas ASEAN-China yang telah berjalan sejak tahun 2004 dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh Indonesia.

Makin rendahnya hambatan tarif dan kuota terhadap ekspor agrobisnis diharapkan membuat komoditas tersebut makin kinclong di pasar ASEAN dan China.

Namun, meski nilai ekspor komoditas minyak nabati, karet alam, dan kakao menempati rangking yang tinggi, rendahnya produktivitas dan kurangnya dukungan permodalan masih menjadi masalah klasik yang mengganjal.

Dukungan kredit dari sektor perbankan dirasa masih belum maksimal. Keran kredit perbankan yang dibuka ke sektor ini per Oktober 2009 hanya mencapai angka Rp 72,8 triliun atau sebesar 5,3 persen dari total kredit yang disalurkan. Porsi ini lebih rendah dari yang diberikan ke sektor industri, perdagangan, dan jasa (bertahan sejak Januari 2005).

Selain itu, pertumbuhannya pun ikut melambat dari 23 persen (Oktober 2008) menjadi 10,1 persen (Oktober 2009). Sejak krisis ekonomi dunia melanda dan harga komoditas terjun bebas, persepsi risiko di sektor ini memang menjadi lebih tinggi. Tak pelak pengetatan kredit masih berlangsung.

Tanpa melupakan dukungan perbankan, RUU pembiayaan pertanian yang disiapkan pemerintah diharapkan menjadi air segar bagi dahaga permodalan sektor pertanian.

Selain itu, peningkatan produktivitas melalui peremajaan tanaman dan aplikasi ketat mutu standar komoditas menjadi salah satu langkah strategis yang wajib diterapkan. Hal ini mengingat kinerja sektor hulu yang semakin mantap akan mendukung pengembangan sektor hilir yang lebih kuat.

Handri Thiono Economist Danareksa Research Institute

Sumber : Kompas (2010)

%d blogger menyukai ini: