Zonanugera's.com

Beranda » Zona Agrobisnis » Peternakan » Investasi Sapi Sangat Ditunggu

Investasi Sapi Sangat Ditunggu

pas1

anas nafian web

Pemerintah dan pengamat dari enam provinsi di Indonesia timur dan tengah mendukung masuknya investasi Australia ke sana. Investasi dalam sektor peternakan, terutama dalam pengembangan sapi, sangat ditunggu karena sangat potensial di daerah-daerah itu.

Demikian penegasan para pejabat pemerintah di enam provinsi, yakni Papua, Papua Barat, Maluku, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Bali, yang dihubungi secara terpisah, Rabu (17/3). Mereka menanggapi Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa yang mengatakan, pemerintah menawarkan peluang investasi di bidang pertanian dan peternakan di enam provinsi itu kepada Australia (Kompas, 17/3/2010).

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali I Putu Sumantra di Denpasar menegaskan, Pemerintah Provinsi Bali membuka pintu selebar-lebarnya bagi investasi di bidang peternakan sapi bali. Dengan bekal mempunyai genetika sapi bali yang masih murni, Bali siap menjadi sumber bakalan sapi yang melayani daerah-daerah di Tanah Air.

Populasi sapi bali di Bali saat ini diperkirakan mencapai 660.000 ekor dengan 200.000 ekor di antaranya adalah betina indukan. Pakan sapi bali di Bali adalah daun-daunan dan nonorganik sehingga keunggulan kualitas dagingnya diakui khalayak.

Menurut Sumantra, pengembangan sapi bali dilakukan secara swadaya dan tradisional di seluruh kawasan. Penyebaran wilayah itu menjadi peluang utama terbukanya investasi di bidang peternakan sapi karena artinya semua wilayah di Bali terbuka menjadi tempat investasi. Investasi yang diperlukan adalah pembibitan dengan teknologi yang lebih baik dari kondisi sekarang.

”Sapi bali terkenal punya kemampuan adaptasi bagus dengan lingkungan sekitarnya. Kemampuan reproduksinya juga bagus, rata-rata beranak setahun sekali,” kata Sumantra.

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Esthon Foenay di Kupang mengatakan, menuju pasar bebas yang tengah berlangsung, kawasan timur Indonesia perlu berbenah diri. Investor asing sangat perlu, termasuk dari Australia.

”NTT membuka pintu lebar-lebar bagi investor dari luar, termasuk Australia. Kita harus berpikir positif menangkap peluang yang sangat strategis itu. Investasi dan kerja sama Australia-Indonesia itu di bidang pertanian, peternakan, kemudian pangan dan energi,” katanya.

Khusus peternakan dan pangan, kata Foenay, NTT sedang mencanangkan program mengembalikan NTT sebagai salah satu gudang ternak nasional, khususnya sapi. NTT juga disiapkan sebagai provinsi jagung.

Wakil Gubernur Provinsi Maluku Said Assagaff di Ambon, menegaskan Pemerintah Provinsi Maluku menyambut baik rencana kerja sama dengan Australia di sektor pertanian dan peternakan. ”Pengembangan pertanian dan peternakan di Maluku diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, mampu membuka lapangan pekerjaan alternatif bagi masyarakat pesisir saat mereka tidak bisa melaut karena cuaca buruk,” ujarnya.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Papua Leonardo Rumbarar di Jayapura menegaskan, Pemerintah Provinsi Papua menyambut baik peluang investasi bidang pertanian yang dibuka kepada Australia. Namun, minimnya sarana infrastruktur penunjang pertanian di Papua menjadi faktor para investor tidak berminat beragrobisnis di sana.

Ia menjelaskan, kendala infrastruktur ini pula yang dikeluhkan para investor nasional yang tertarik berkecimpung dalam Merauke Integrated Food and Energy Estate.

Sumber : Kompas (2010)

%d blogger menyukai ini: