Zonanugera's.com

Beranda » Zona Agrobisnis » Pertanian » Harga Benih Bisa Lebih Murah

Harga Benih Bisa Lebih Murah

pas1

anas nafian web

Guna mendukung pengembangan Merauke sebagai kawasan pangan, PT Sang Hyang Seri (Persero) mulai Mei 2010 memproduksi benih padi di Merauke. Benih yang diproduksi dipasarkan secara komersial pada November 2010. Dengan demikian, Merauke tak lagi bergantung pada pasokan dari Sulawesi Selatan dan harga benih jadi lebih murah.

Menurut Direktur Utama PT Sang Hyang Seri (SHS) Eddy Budiono, Sabtu (13/2) di Merauke, Papua, produksi benih itu dilakukan bekerja sama dengan petani lokal. Varietas benih yang diprioritaskan adalah Ciherang dan IR-64.

SHS merupakan badan usaha milik negara (BUMN) yang bergerak dalam produksi benih padi. ”Petani memproduksi benih sesuai arahan teknis kami, lalu benih dijual kepada SHS,” kata Eddy.

Menteri Pertanian Suswono berpendapat, pengembangan kawasan pangan di Merauke dalam bentuk kemitraan antara pengusaha dan petani dilakukan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani. ”Kami tentu akan melibatkan petani sebagai mitra pengusaha supaya memenuhi aspek keadilan dan pemerataan kesejahteraan petani,” ujarnya.

Produksi benih, menurut Eddy, akan dilakukan di Distrik Kurik, dekat dengan pengembangan sentra tanaman padi di wilayah Merauke.

Pada tahap awal, SHS memanfaatkan 100 hektar dari 500 hektar lahan produksi yang siap dikerjasamakan. Tahap selanjutnya dikembangkan sesuai dengan permintaan. ”Nilai investasi tidak besar karena tiap hektar hanya memerlukan Rp 5 juta-Rp 6 juta. Produktivitas benih ditargetkan 4 ton per hektar,” tutur Eddy.

General Manager VI PT SHS, yang membawahkan 11 provinsi dan 68 kabupaten/kota di wilayah Indonesia timur, Abu Saniasa menyatakan, selama ini kebutuhan benih padi di Merauke dipasok dari Sulawesi Selatan. Dari total kebutuhan benih di Provinsi Papua sebanyak 700 ton per tahun, kebutuhan benih di Merauke mencapai 500 ton.

”Produksi benih di Merauke akan menghemat biaya transportasi sehingga harga benih bisa lebih murah,” katanya. Saat ini biaya produksi benih padi Rp 5.000 per kilogram.

Dibagi tiga zona

Pada 12 Februari 2010, seharusnya pemerintah mencanangkan kawasan pangan (food estate) di Merauke. Program ini adalah bagian dari program kerja 10 hari Kabinet Indonesia Bersatu II. Namun, pencanangan kawasan pangan itu diubah menjadi pencanangan Merauke sebagai Kawasan Pengembangan Usaha Budidaya Tanaman Terintegrasi dan Berskala Luas di Wilayah Indonesia Bagian Timur.

Menurut Bupati Merauke Johanes Gluba Gebze, total lahan potensial untuk pengembangan kawasan pangan di Merauke 1,28 juta hektar. Pemanfaatan lahan itu adalah untuk tanaman pangan 682.833 hektar, komoditas perkebunan 400.000 hektar, serta peternakan dan perikanan masing-masing 100.000 hektar.

Pengembangan kawasan pangan seluas 1,28 juta hektar itu dibagi dalam tiga zona. Tiap-tiap zona terdiri dari delapan kluster, dengan tiap kluster terdiri atas 32 subkluster dan setiap subkluster seluas 5.000 hektar.

Prioritas jangka pendek adalah kluster sentra produksi pertanian I di Distrik Kurik untuk tanaman padi sawah, padi gogo, dan kedelai.

Menurut Deputi Kementerian BUMN Bidang Usaha Agroindustri, Kehutanan, Kertas, Percetakan, dan Penerbitan Agus Pakpahan, peningkatan kesejahteraan petani Merauke akan tercipta melalui pengembangan organisasi berbentuk badan usaha yang bisa dijalankan efisien dan efektif. Oleh karena itu, badan usaha milik petani di Merauke sangat tepat.

BUMN PT Padi Energi Nusantara, menurut Agus, akan menjalin kemitraan dengan industri pupuk guna memproduksi pupuk untuk memenuhi kebutuhan pupuk Merauke.

Adapun PT Perkebunan Nusantara IX, X, XI, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia akan mengembangkan produksi gula di Merauke.

Sumber : Kompas (2010)

%d blogger menyukai ini: