Zonanugera's.com

Beranda » Zona Agrobisnis » Peternakan » Demo Pedagang Ayam Ricuh

Demo Pedagang Ayam Ricuh

pas1

anas nafian web

Unjuk rasa pedagang ayam menuntut perubahan Peraturan Daerah No 4/2007 mengenai peredaran unggas di Jakarta berujung ricuh. Para pedagang melempari polisi dengan batu dan membuat 5 petugas terluka. Demonstrasi pedagang ayam itu akhirnya dibubarkan paksa.
Sekitar 1.000 pedagang ayam dari berbagai wilayah di Jakarta mulai berkumpul di depan Balaikota DKI Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Kamis (25/3) sekitar pukul 12.30. Perwakilan pedagang ayam dari Solo dan Yogyakarta juga turut hadir dalam unjuk rasa itu.

Para pengunjuk rasa kembali menyuarakan keinginan mereka agar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencabut rencana relokasi semua penampungan dan pemotongan ayam tradisional. Mereka juga menyerukan adanya pembinaan dari Pemprov DKI bagi pedagang ayam tradisional, bukan pemaksaan untuk pemusatan di lima rumah potong ayam (RPA) skala besar.

Para pengunjuk rasa juga meminta bertemu dengan Gubernur Fauzi Bowo untuk membahas masalah pemusatan RPA. Namun, Fauzi Bowo sedang berada di Makassar sehingga tidak dapat menemui mereka.

Bibit kericuhan muncul saat massa memblokir Jalan Medan Merdeka Selatan. Lalu lintas menjadi macet total karena pemblokiran.

Wakil Kepala Polres Metro Jakarta Pusat Ajun Komisaris Besar Firli meminta pengunjuk rasa tidak memblokir jalan agar lalu lintas tidak terganggu. Massa akhirnya mau kembali ke depan gerbang balaikota.

Polisi terluka

Seorang orator akhirnya memerintahkan massa pengunjuk rasa berjalan langkah demi langkah menghadapi polisi yang bertameng pada pukul 15.00. Tiba- tiba massa pengunjuk rasa melempari polisi dengan batu, botol minuman ringan, dan bambu.

Lima polisi yang tidak siap dengan perisai dan helm terkena lemparan batu dan mengalami luka di kepala.

Polisi yang sudah siap dengan peralatan antihuru-hara langsung merangsek dan membubarkan massa. Dua pedagang ditangkap polisi karena diduga menjadi pelempar batu.

Keduanya adalah Indra Wahyudi dari Cengkareng dan Sriyanto dari Pasar Citra II Kalideres. Indra mengaku ikut melempar karena jengkel pekerjaannya akan hilang. Adapun Sriyanto menyangkal ikut melempar karena dirinya sedang naik truk untuk orasi saat polisi membubarkan massa.

Pedagang yang ditemui di Pasar Cengkareng dan Grogol meminta Pemprov DKI membuat pemotongan ayam yang steril di sudut pasar tradisional. Mereka siap memenuhi syarat dari pemprov asalkan tidak dipaksa pindah.

”Lebih mudah mendisiplinkan pedagang untuk menciptakan pemotongan ayam yang steril daripada membangun RPA besar. Kami siap mendapat sanksi jika tidak memenuhi syarat itu,” kata Agus, pedagang ayam.

Sabini, pedagang dan pemotong ayam di Pasar Grogol, mengatakan sudah terbiasa melakukan pemotongan ayam dan pembersihan dengan cara yang bersih sehingga dirinya mudah dibina sesuai syarat pemerintah. ”Saya tidak pernah mencampuradukkan ayam yang baru dipotong dengan ayam yang baru saja direbus untuk dicabuti bulunya,” katanya.

Sumber : Kompas (2010)

%d blogger menyukai ini: