Zonanugera's.com

Beranda » Zona Agrobisnis » Perikanan » 80 Persen Pembenih Patin Gulung Tikar

80 Persen Pembenih Patin Gulung Tikar

pas1

anas nafian web

Produksi benih ikan patin merosot dalam setahun terakhir. Sebanyak 80 persen pembenih dan pendeder patin gulung tikar karena daya serap benih sangat rendah.

Ketua Asosiasi Masyarakat Perbenihan Ikan Provinsi Jambi Achmadal mengatakan, banyak pembenih dan pendeder di Jambi yang gulung tikar. Pihaknya mendata, dari 200 usaha pembenihan dan pendederan yang ada, saat ini hanya tersisa kurang dari 40 unit usaha. Khusus di Kota Jambi, jumlah pembenih tinggal 20 orang, dari sebelumnya 120 orang.

Achmadal melanjutkan, banyak pembenih menutup usaha mereka karena minat petani untuk membeli benih patin sudah jauh menurun. Ia sendiri sudah lebih dari enam bulan tidak melakukan pembenihan. ”Sampai sekarang tidak ada permintaan benih lagi dari petani,” ujar Achmadal, Senin (8/2).

Ia melanjutkan, harga benih patin ukuran 2 inci biasanya dijual dengan harga Rp 200 per ekor. Namun, banyak pendeder berani menjual degan harga Rp 100 per ekor karena mereka kesulitan mendapatkan pembeli. Mereka juga sempat mengadukan nasibnya kepada Pemerintah Provinsi Jambi, tetapi hingga kini belum ada solusi yang mereka peroleh supaya bisa kembali beroperasi.

Produksi benih patin di Kota Jambi pada 2009 mencapai 56,2 juta ekor, tetapi hanya 50 persen yang diserap petani. Benih patin tersebut untuk memenuhi kebutuhan petani di wilayah Kota Jambi (1,8 juta ekor) serta sisanya luar kota dan provinsi.

”Banyak benih yang tidak terserap karena minat petani untuk memelihara patin sudah sangat anjlok,” ujar Harlik, Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DPPP) Kota Jambi.

Harga panen anjlok

Menurut Harlik, turunnya minat memelihara patin disebabkan harga panennya yang anjlok. Panen patin di tingkat petani dihargai Rp 7.500 per kilogram, padahal biaya produksi mencapai Rp 8.000 per kg. Akibatnya, banyak petani merugi dan kemudian enggan menanam patin lagi.

Kepala Bidang Perikanan DPPP Kota Jambi M Kahar menambahkan, daya serap benih patin dari luar provinsi juga menurun. Ia mencontohkan, petani di Riau sebelumnya membeli benih dari Jambi, kini tidak lagi.

”Pembelian benih patin dari Riau bisa mencapai 20 juta ekor per tahun. Namun, sekarang Riau sudah bisa memproduksi benih sendiri sehingga tidak lagi membeli benih dari Jambi,” ujar M Kahar.

Ia menambahkan, dinas telah mengupayakan subsidi bagi petani yang memelihara patin. Subsidi sebesar Rp 50 per ekor benih. Akan tetapi, tak banyak petani mengajukan subsidi.

Sumber : Kompas (2010)

%d blogger menyukai ini: