Beranda » Zona Agrobisnis » Perikanan » Gurami Kolam Terpal

Gurami Kolam Terpal

pas1

anas nafian web

TEBAKAN pelayan toko plastik di bilangan Malioboro, Yogyakarta, itu meleset saat melayani Jumaryanto yang membeli tiga gulung terpal. “Disangka untuk panen padi,” kata Jumaryanto.

Terpal yang biasa dijadikan alas saat petani memisahkan bulir-bulir padi dari malai itu dipakai Jumaryanto untuk membuat kolam pembesaran gurami. Hasilnya, pada Oktober 2009, dari sebuah kolam terpal berukuran 4 x 8 meter, pria 36 tahun itu memanen 3,7 kuintal gurami konsumsi berbobot 500–700 gram/ekor.

Panen gurami di kolam terpal bukan yang pertama dilakukan warga Dusun Bakalan Trisik, Kabupaten Kulonprogo, itu. Namun pada panen itulah ia pertama kali memanen gurami konsumsi berbobot 500–700 gram/ekor.

Jauh sebelumnya pada April 2008 dari kolam terpal serupa, mantri tani itu menjaring 2,7 kuintal gurami berbobot 250–300 gram/ekor yang dibesarkan selama 4,5 bulan. “Waktu itu masih coba-coba,” kata Jumaryanto yang saat itu meraih omzet Rp5 juta. Panen yang berlangsung Oktober 2009 dilakukan setelah gurami dibesarkan 8 bulan.

Bukan tanpa sebab Jumaryanto membesarkan gurami di kolam terpal. Kolam di lahan budi daya seluas 2.000 m®MDSU¯2 itu berdiri di atas tanah berpasir. Tanah berpasir karena lahan yang sebelumnya bergiliran ditanami semangka, kacang tanah, dan cabai itu merupakan bagian wilayah pesisir Pantai Trisik yang terpisah jarak satu kilometer. Masyarakat menganggap budi daya ikan tidak cocok dilakukan karena tanah pasir: porous dan mudah amblas.

Jumaryanto membalikkan kondisi itu. Untuk membangun kolam terpal berukuran 4 x 8 meter, misalnya, ia mengeduk tanah pasir sedalam 1 meter. Dinding kolam dibuat miring 300 agar mampu menyangga terpal. Sebelum terpal dipasang, Jumaryanto menabur 20 karung sekam di dasar kolam. Sekam berguna untuk menjaga kestabilan suhu air pada kisaran 28 derajat Celsius. Fluktuasi temperatur siang dan malam di pesisir cukup tinggi, bisa berbeda 2–3 derajat Celsius.

Pemasangan terpal cukup singkat, sekitar 1,5 jam. Setelah terpal terpasang, kolam yang ongkos pembuatannya kurang dari Rp600 ribu itu ditebar 5.000 bibit seukuran kuku. Tidak semua gurami itu dibesarkan hingga ukuran konsumsi karena luas kolam terbatas, 32 m®MDSU¯2.

Dengan tingkat kelulusan hidup 80%, memasuki umur gurami 2,5 bulan, Jumaryanto memanen 3.500 ukuran silet yang laku dijual Rp800–Rp1.000/ekor. Dari sini Jumaryanto minimal mengantongi pendapatan Rp2,8 juta. Sekitar 300–400 gurami lain dibesarkan lagi selama 5,5 bulan hingga dipanen sebanyak 3,7 kuintal. Dengan harga jual Rp23 ribu/kg dan biaya produksi Rp15 ribu/kg, Jumaryanto yang kini mengelola 6 kolam terpal itu memetik laba bersih Rp2,96 juta.

Kolam Dalam

Di Banjarnegara, Jawa Tengah, ada Agung Dwi Antoko yang membesarkan gurami dengan cara lain. Sejak awal 2009 alumnus Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah di Malang, Jawa Timur, mengubah konstruksi 4 dari 6 kolam gurami berukuran masing-masing 15 x 17 meter. Itu dilakukan Agung setelah memakai sistem kolam dalam. Kolam dalam yang dimaksud adalah menambah kedalaman kolam dari semula 1–1,2 meter –selanjutnya disebut kolam dangkal, menjadi 1,8–2 meter. Dengan aplikasi itu otomatis ruang kolam menjadi lebih besar dan ujung-ujungnya populasi gurami meningkat.

Menurut Agung, sebelum memakai kolam dalam ia hanya dapat menebar 2 kuintal bibit ukuran tampelan berbobot 250–300 gram/ekor. Gurami itu dibesarkan selama 5 bulan hingga mencapai bobot 600–700 gram/ekor. Namun, setelah mengaplikasikan kolam dalam, padat penebaran meningkat 1,5 kali lipat. Dengan tebar ukuran sama, kolam dapat memuat 3 kuintal bibit. Hasilnya cukup signifikan. Produksi melonjak menjadi 8 kuintal dari sebelumnya 4,5 kuintal pada kolam dangkal.

Banyak keunggulan lain dipetik Agung setelah menerapkan cara itu. Bobot konsumsi yang disebut di atas dicapai dalam tempo 4,5 bulan. Itu artinya 2 pekan lebih cepat daripada kolam dangkal. Pria 35 tahun itu menduga kolam dalam membuat gurami terhindar dari stres lingkungan: akibat lalu lalang orang, misalnya. Efeknya laju pertumbuhan gurami lebih baik.

Imbas lain dari pemangkasan waktu itu komponen produksi seperti jumlah pakan dapat ditekan. Agung menuturkan ia membutuhkan 30 sak pakan seharga Rp182 ribu/sak (ukuran 30 kg) selama 5 bulan budi daya di kolam dangkal. Namun, dengan aplikasi kolam dalam diperlukan 40 sak dengan populasi ikan 1,5 kali lebih banyak.

Secara hitung-hitungan biaya pembuatan kolam dalam tidak terlampau mahal. Satu meter persegi membutuhkan biaya Rp30 ribu. “Dua kolam dapat dikerjakan selama 30 hari oleh 8 pekerja,” ujarnya. Kolam kira-kira seluas 300 m®MDSU¯2 menyedot biaya pembuatan Rp9 juta.

Kolam Air Payau

Cara lain membesarkan gurami ditempuh Carmin Iswahyudi di Kecamatan Losarang, Indramayu, Jawa Barat. Tak kepalang tanggung, Carmin membesarkan gurami itu di kolam-kolam tanah bekas tambak udang dan bandeng yang berair payau. Di sana salinitas berkisar 5–10 ppt dan nilai alkalinitas 100 ppm. Dengan kondisi itu hanya ikan-ikan estuarin yang hidup di muara sungai seperti bandeng Chanos lebih pas dibudidayakan.

Carmin justru membuat gurami itu bak ikan estuarin saat pertama kali mencoba membesarkannya di kolam air payau pada pertengahan 2007. Saat itu hasilnya jauh dari memuaskan. Kolam seluas 500 m®MDSU¯2 yang ditebari 3.000 bibit berbobot 50 gram/ekor. Sejumlah 20%–30% ikan mati tak berapa lama setelah dibenamkan. Tingkat kematian berangsur-angsur turun di bawah 10% setelah Carmin terlebih dahulu mengadaptasi bibit. Caranya, wadah bibit yang berisi air tawar pelan-pelan diberi air payau hingga dicapai perbandingan 1:1. “Adaptasi paling lama 30 menit sebelum dipindahkan ke kolam,” kata Carmin.

Carmin yang kini mengelola 20 ha lahan gurami berbagai ukuran kolam, 500–1.000 m®MDSU¯2, itu menuturkan perkembangan gurami di kolam payau cukup baik. Bobot konsumsi di atas 600 gram/ekor diperoleh selama 8 bulan budi daya dari ukuran bibit tiga jari. Berdasarkan pengamatan Carmin di Cirebon, misalnya, peternak yang menebar ukuran bibit sama, butuh waktu di atas 10 bulan untuk mencapai bobot konsumsi 600 g/ekor. “Mungkin karena di sini suhunya stabil sekitar 28 derajat Celsius sehingga nafsu makan gurami lebih baik,” kata kepala Unit Pengembangan Perikanan Divisi Air Tawar Kabupaten Indramayu itu.

Berkembang

Yang dilakukan Jumaryanto, Agung, dan Carmin sesungguhnya menjawab keterbatasan pasokan gurami konsumsi selama ini. Harap mafhum kekurangan itu terjadi karena produksi gurami masih bergantung kepada sentra-sentra produksi seperti Banyumas dan Cilacap (Jawa Tengah), Blitar dan Tulungagung (Jawa Timur), dan Parung dan Ciamis (Jawa Barat).

Secara nasional produksi gurami hingga 2008 mencapai 37.100 ton. Volume itu masih kalah dari produksi ikan mas (290.100 ton), nila (220.900 ton), dan lele (108.200 ton). Bahkan dibandingkan patin yang popularitasnya di bawah gurami, produksi Osphronemus gouramy itu sedikit tertinggal. Produksi patin mencapai 52.470 ton.

Pantas kondisi itu membuat pelaku gurami menjerit kekurangan barang. “Saya cuma sanggup memasok 1,4 ton per minggu ke restoran-restoran Bandung,” ujar H. Ismail Fauzi, peternak sekaligus pengepul di Ciamis yang membutuhkan 3–4 ton/minggu itu.

Hal serupa dialami pemasar lain seperti Era Majid (Banjarnegara), Sujadi (Cilacap), dan Wagiran (Yogyakarta). “Yogya yang butuh 5 ton/hari baru terpenuhi sekitar 7%,” kata Wagiran. Jakarta? Pasar gurami paling besar ini kebutuhannya terus meningkat. Dua tahun lalu kebutuhan sekitar 100 ton/hari, kini melejit hingga 120 ton/hari.

Wajar Toto Setya Winarno, kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perikanan Kabupaten Banjarnegara, menyebutkan meski produksi gurami di Banjarnegara terus meningkat dari 518,80 ton pada 2006 menjadi 858 ton pada 2008 tetapi, “Produksi itu belum mencukupi permintaan yang masuk kepada peternak di sini,” kata Toto.

Menurut Jumaryanto, budi daya gurami di kolam terpal yang dilakukannya tak memiliki banyak kendala. “Semua hampir sama dengan budi daya di kolam tanah,” kata dia.

Yang sedikit berbeda, kolam terpal perlu 3 kali melakukan pergantian air sebanyak 2/3 kapasitas kolam. Ini lantaran sampah organik dari kotoran dan sisa pakan tidak bisa terdegradasi karena dasar kolam berlapis terpal. “Pergantian dilakukan setelah air terlihat cokelat,” ujarnya.

Ir. Hardaningsih, ahli gurami dari Fakultas Perikanan UGM, mengungkapkan kolam terpal selama ini lebih banyak dipakai pembenih dan pendeder gurami. “Pemanfaatannya kini sudah melebar sampai ke tahap pembesaran,” ujarnya. Keuntungannya? Hardaningsih menyebutkan dengan kolam terpal fluktuasi suhu relatif stabil.

Menurut Endang Saputro, peternak di Kulonprogo, Yogyakarta, kolam terpal menjadi dewa penolong saat tiba musim kemarau tiba. “Kalau musim kemarau air di kolam tanah bisa surut, tapi kolam terpal tidak,” kata dia.

Menurut Ade Sunarma, aplikasi kolam dalam juga menyumbang manfaat besar. “Terutama pada pakan,” kata peneliti gurami dari Balai Besar Penelitian Budidaya Air Tawar (BBPBAT) di Sukabumi, Jawa Barat. Pada kolam dangkal hampir 100% gurami diberi pakan pelet terapung yang harganya cukup tinggi sekitar Rp6.800/kg. Pada kolam dalam, “Bisa dipakai penuh pelet tenggelam yang harganya Rp5.000/kg,” ujar Ade.

Soal kedalaman air tidak menjadi masalah karena gurami tak butuh banyak oksigen terlarut lantaran memiliki organ labirin. Dengan organ ini gurami dapat menangkap langsung oksigen dari udara seperti terjadi pada lele dan gabus.

Pasar stabil

Sejauh ini bisnis gurami tetap menggiurkan. Patokan harga di tingkat peternak telah melesat mencapai Rp20 ribu–24 ribu/kg. Sekitar 3 tahun lalu harga berkisar Rp17 ribu–18 ribu/kg. Prevalensi bobot juga ikut terkerek. Bila sebelumnya ukuran 500 gram/ekor dianggap cukup, kini tidak lagi. “Konsumen kami menyukai bobot sekitar 600–700 g/ekor,” ujar Sutiman, kepala bagian Meat & Fish Departement Hypermart di Depok Town Square, Depok, Jawa Barat.

Menurut Dwiaji, pasar gurami masih akan stabil karena produksi bibit pada gurami tak bisa booming. “Betina gurami paling banter menghasilkan 3.000–5.000 telur. Dari jumlah itu hanya 40% yang menetas,” kata pembenih di Gunungkidul, Yogyakarta. Padahal kebutuhan benih terus menunjukkan kenaikan.

Dedi Dahlan, direktur PT Semata, pembenih di Tasikmalaya, Jawa Barat, menyebutkan kenaikan 10% setiap tahun. “Produksi kami saat ini saja sudah ditingkatkan menjadi 2 juta benih per tahun,” ujar dia.

Pengembangan gurami kini terus melebar ke daerah baru seperti Yogyakarta, Medan, dan Indramayu. “Kami sekarang membina sekitar 80 peternak gurami,” ujar Carmin Iswahyudi.

Untuk pengembangan di Indramayu, misalnya, bank pemberi kredit setempat mengucurkan bantuan modal hingga ratusan juta. “Setiap peternak binaan saya mendapat pinjaman Rp20 juta–Rp70 juta tergantung luas kolamnya,” ujar Carmin.

Demikian juga di Banyumas. Menurut Ir. Sutrisno, sejak setahun lalu di sana terdapat 8 kelompok peternak yang diberi bantuan modal untuk pengembangan gurami. “Besarnya mencapai Rp40 juta per kelompok,” kata kepala Bidang Peternakan dan Perikanan Kabupaten Banyumas itu.

Peluang beternak gurami memang terbuka lebar apalagi kondisi lahan bukan menjadi halangan. Itu pula yang telah dilakukan oleh Jumaryanto dan Carmin.
Sumber : Lampung Post (2010)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: